Reliji

Umur 1 tahun, dokter anak kakak menyarankan agar kakak sesekali diajak ke masjid untuk kehidupan relijinya. Dokternya kakak kebetulan muslim juga.

Tidak mudah memang mengajari kehidupan reliji ketika kita menjadi minoritas. Waktu itu, lokasi rumah-masjid sangat jauh. Ke masjid paling untuk hari raya. Namun, untuk sosial-reliji, kakak sudah terbiasa dibawa ke acara pengajian 2 minggu sekali. Di luar itu masih ada acara lain, seperti ceramah kalau ustadz datang, seminggu sekali jika puasa, atau silaturahmi lain sesama keluarga muslim.

Di rumah? Belajar agama menjadi sangat utama, waduuuuhhh tanggung jawab besar sekali yaaa… mengingat ibunya juga pengetahuan agamanya masih pas2an, terutama hubungannya dengan hapalan dasar hukum: AlQuran dan hadist. Namun, tentu saja, kita berusaha keras yaa… sekalian si ibu juga ikut belajar.

Mulai dari yang ketemu sehari2: baca doa dan solat. Misalnya: mau makan, mau tidur, mau naik mobil/kendaraan. Kebiasaan mengucapkan: ya Allah, Masha Allah, hamdallah, istigfar. Terus kalo solat ngikut di sebelah. Prakteknya: kalo solat kakak pelan2 ngikut nungging2 lucu, kemudian umur 2 tahun ngikut manis, umur 4 tahun? mulai beredar, sambil jungkir, lari, bolak-balik, dan bacaannya tereak sekenceng2nya. Terutama karena ada adik, jadi diselingi bercanda dan rebutan tempat atau sajadah.

Lain2nya, masih belum banyak nempel. Kalo habis bersin, masih harus diingatkan: baca hamdallah dulu pelan2 baru excuse me yg keras. Kalo ada barang jatuh, baca istigfar. Prakteknya dia masih lerasa lucu dengan bersin, jadi ketawa dulu dan laporan: ibuuu kakak sneezing, hehhehe…

Hapalan Al Qurannya lumayan menurutku sih. Mengingat kakak termasuk late talker dan lebih senang bergerak daripada diam memperhatikan dan mengikuti kata2 pengasuhnya. Awalnya aku sampe khawatiiir banget, kok mau umur 4 tahun belon tertarik belajar hijaiyah dan belum hapal satu surat pun. Padahal anak lain umur 2 tahun sudah hafal al fatihah.
Jadi, kerjaanku ya berdoa… berdoa… berdoa, heheh… sambil terus ngajari kakak yang direspon dengan: gedubrak gedubrak, jungkir dan lari terus jeduk2… kepalanya ngejedukin ke badan kita😀

Namun kemudian, doaku terjawab, alhamdulillah… tiba2 kakak meneruskan kata2ku menghafal Surat Al Ikhlas. Senangnyaaa…. Pelan2 kakak hafal Al Ikhlas, Al Kautsar, dan sekarang sedang belajar: Al Ashr dan An Nas. Tentu dengan ucapannya dia yang masih belepotan. Banyak kata yang dia ucapkan mengambang, dan tentu saja: masih segan menempelkan mulut untuk bilang: m, heheh…
Doanya: sebelum makan, sebelum tidur, orang tua, naik kendaraan, dan sekarang menghapal doa pakai-lepas baju dan doa habis solat.
Masih yang pendek2 terutama disesuaikan dengan kemampuan si ibunya juga😦

Paling tidak, 6 bulan terakhir ini, kakak mulai tertarik. Aku pun mulai menempelkan tulisan2 surat yang dihapalnya di dinding. Sengaja langsung tulisan arabnya, bukan latin. Kemudian aku coba bikin (lagi) huruf hijaiyah, kali ini berbentuk kereta dan ditempel di dinding meliuk2 seperti gambar kereta di buku. Berhasil, kakak langsung tertarik. Kereta kecil menarik gerbong huruf2 hijaiyah, aku sebut: “Hijaiyah train”. Kakak lonjak2 gembira sambil berusaha menghapalnya. Kalau lupa, dia tanya: “The red car ibu… what you call that?” AKu bilang: jim.
Awalnya, aku suruh dia menghafal 4 dulu: alif, ba, ta, tsa. Terus jim ha kho, terus dal dza. Dilanjutkan: ro za. Dst.

Mudah? tentu saja tidak, kakak sering beralasan juga karena malas. Mungkin karena dia tidak tahu artinya apa karena bukan bahasa sehari2. “Kan udaaaah” itu alasan paling sering. “Look ibu, sudah full, ini doa makan, doa tidur, sudah sampai sini” katanya sambil menunjuk kepalanya, katanya tubuhnya sudah dipenuhi doa yang dia hafal. Heheh ga tau juga idenya dari mana. Biar dia mau, sering juga dikasih reward: kalo hapal doa sesudah solat, nanti dibelikan temennya thomas. Kakak semangat deh. Paling geli kalo mau tidur mengulang hafalannya. Selesai menghafal, dia minta tanganku pura2 jadi lebah. Aku bunyi: bzzzzzz, sambil jempolku melayang2 seperti lebah terbang. Mengejar kakak yang tertawa2 geli. Terus dia mau lebahnya kecapekan dan diam, kemudian kakak memakan lebanhnya, waduuuuh menggiggit beneran deeeeeehhhh….

Demi… demi… demi… belum banyak ya ka, aku sendiri kadang ‘menyerah’ mengajaknya menghapal karena begitu nempel di bantal, udah berasa ngantuuuuuk dan badan remuk. Akhirnya cuman menyuruh kakak baca doa sebelum tidur. Tantangan terbesar karena aku sendiri gak banyak hapal. Maka sering sekali aku juga malah ikutan menghapal. Hmmm bagus juga yaaa…

Kakak juga mulai dibacakan (lagi) buku2 dan cerita nabi berdasarkan Al Quran. Tidak mudah juga karena ceritanya serius dan pendek2. Gambarnya pun pemandangan mulu. Tapi, kakak senang diceritakan tentang: bad people yang gak mau solat-berdoa melawan good people yang solat-berdoa. Ketika ditambahkan: Allah menyenangi dan menolong good people, kakak belum merespon.

Kali ini memasuki ramadan, kakak diterangkan tentang puasa. Ketika diajak ikut bangun sahur kemudian puasa. Kakak bilang: “Gak mau ibu, kalo sun down (malam) itu tiduuur, no makan. Kalo sun up (siang) itu makaaan” Heheh… betul Ka.
Maunya diajak taraweeh juga ke masjid. Namun di masjid tempat kami taraweeh, belum boleh ada anak2 yang belum ngerti, mereka di titipkan di tempat penitipan. Lagi pula, kali ini waktu taraweeh masih larut. Baru mulai jam 9.45 selama 1.5 jam.
Jadi, kakak taraweehnya di rumah saja sama ibu ya kaaa….

Author: aku, si ibu

Hanya aku... ya aku... siapa lagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s