Tidur di kamar sendiri

Saatnya kakak-adik tidur di kamar sendiri, tempat tidur sendiri, tanpa ibu nempel di badan mereka. Hiks… hiks… mereka sedih, maunya seperti sebelumnya. Sebetulnya ibu juga. Ibu kehilangan banyak moment indah:
Adik yang suka nungging2 sambil bilang: “Ibuuuu liat….” begitu dilihat, gubraaakkkk pantatnya dijatuhkan ke badan ibu. Atau adik teruuuus nungging nempel ke badan ibu. Saking nunggingnya sampe nempelnya tuh ke wajah ibu, hihhi… Trus kalo ditepok pantatnya, dibbilangi: “geser doooong” Adik ketawa2 sambil geser. Tapi kemudian mulai lagi sampe capek. Begitu udah mau tidur, adik nempelin mukanya lekat2 ke pipi kiri ibu. Kadang2 sambil bisik2 kecil, entah apa, mulutnya gerak2, ibu jadi geli, jadi deh semua ketawa.

Atau melihat adik berulah begitu, kakak juga ikutan heboh: “what about me… what about mee…” katanya sambil dorong2 pantatnya juga ke ibu. Karena sudah besar, gak bisa sampe ke kepala ibu. Kemudian ibu tepok pantatnya sambil bilang: “geser doooong” Kakak pun ketawa dan geser. Terus meluk ibu dari kanan.
Iyaaa ibu tidurnya di tengah, bener2 didesak sama kakak dan adik. Wajah ibu harus lurus ke atas kalo miring dikit, sama kakak dibetulkan, hihihi biar adil. Tangan ibu pun adil memeluk kakak-adik.
Kalau sama kakak, ibu juga kehilangan momen bermain bug/serangga. Sebelum tidur, kan cerita, terus berdoan, terus kakak menghapal bacaan qurannya. Kakak mau menghapal asal setelah itu main bug. Begitu selesai hapalan, ibu pura2 bunyi suara kumbang, dan jempol ibu melayang2. Kakak berusaha menangkap laluuu…. masuk mulut. waduuuuuhhhh….
Awalnya bener2 di gigit deh sama Kakak. Lama2 pura2 saja katanya, ibu menghitung sampe 20 dan bug pun lepas. Selesai. Kakak tidur…

How I miss that moments kids…. Tapi ibu janji, menggantinya dengan moment lain diluar waktu tidur, semoga…

Ceritanya, kakak sudah lama “pengen tidur sendiri” karena melihat film kartun berenstein bears. Di situ sister dan brother tidur dikamar sendiri menggunakan ranjang tingkat/bunkbed. Berkali2 kakak bilang. Aku tahu, kakak belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebetulnya, terpisah dariku. Kelihatannya fun saja kali turun naik tempat tidur. Percakapannya:
“Ibu… how can i sleep in myownroom, i don’t have my own bed”
“Insha Allah nanti kita cari tempat tidurnya ya, mau seperti sister-brother?”
“Iya, nanti kakak di up dan adik di down”
“Kalau adik nangis gimana?”
“Kan ada kakaka”
“Kalau kakak nangis gimana”
“Kan ada adik” heuheue….
“Nanti kalau kakak terbangun, kakak boleh panggil ibu, ibu akan datang”
“Oke” katanya berbinar2 dilanjutkan loncat2

Lama… masih juga belum terlaksana. Ibu search online berbagai macam tempat tidur untuk mereka. Pilihannya bunkbed agar kakak bisa tidur di atas, mengirit ruang, bahannya kayu dan bisa dilepas terpisah menjadi 2 tempat tidur normal. Tidak terlalu kokoh, namun cukup untuk mereka. Moga2 gak terlalu banyak loncat2 di situ agar awet sampai mereka dewasa, amiiin🙂
Bismillah…

Sekitar 2 minggu, tepatnya minggu lalu. Bunkbed sudah bisa disusun di rumah. Kakak membantu mengambilkan kayu2 dan baut2nya. Kayu2nya memang ringan namun kelihatan kokoh, dan memang cukup kokoh kok. Kakak berbinar2 melihat tempat tidurnya. Besok harinya, kita pergi cari mattressnya. Kemudian jadi deh tempat tidur untuk kakak-adik.

Adik-kakak sibuk turun naik, rebutan tentu. Kemudian loncat2 tentu. Waduuuuh…. Makanya sebetulnya ada peringatan ranjang atas itu gak boleh untuk umur <6th. Ya itu kali cenderung loncat2 atau gedubrak2, dibilangnya: horseplay. Namun beberapa kali dikasih tahu lumayan ngerti. Sabar2 ibunya saja heheh…

Malamnya, pertarungan dimulai. Ibunya ikhlas saja melepas anak2 tidur sendiri, heheh… dan anak2?

Adik, tidak mau masuk ke tempat tidurnya kerena memang menyerupai ruangan kecil. Orang dewasa gak bisa duduk di situ karena pendek. Kakak saja masih suka kejeduk2. Adik juga maunya main karena ruangannya bareng dengan tempat mainan. Sekalinya naik ke tempat tidur, buru2 turun lagi😀 Begitu dipaksa, nangis dan maunya dikelonin seperti biasa!

Kalau kakak, mau naik, teru menerawang. Kakak sih sudah bisa dinasihati. Tapi wajahnya kelihatan sedih. Malam pertama, maunya aku ikut tidur di situ. Malam kedua wajahnya makin sedih, malam ketiga makin merana. Katanya: "Because I love you ibuuuu" waduuuuhhh….
Susaaaah sekali kakak tertidur. Tapi memang sebelumnya juga tidak mudah buat kakak untuk tidur, apalagi sekarang.

Setelah malam ke-4 dan seterusnya, adik lebih ngerti, sebelum tidur sudah bebas bergerak2, gak melulu menghadap ke ibu yang duduk di pinggir ranjang. Sementara kakak kemajuannya sedikit. Kakak nampak terpaksa menerima karena tidak ada pilihan.

Ibu? masih dengan setia duduk di barstool/kursi bar, kursinya lebih tinggi dari kursi biasa, jadi bisa melihat kakak tidur. Nyender ke tembok, kadang2 terlelap dikit, hihihi… Setelah mereka tidur, aku betulkan selimut mereka dan pergi tidur juga. Namun teteo aja radar nyala, begitu denger kakak teriak "ibuuu" langsung loncat nyamperin. Malam pertama sih udah kayak menyapih asi saja deh, heheh Tapi memang karena waktu itu kakak-adik dua2nya pada batuk, jadi sering bangun. Adik sampai muntah, dan kakak dapat mimisan. Intinya, seminggu terakhir bikin kleyengan juga….

Sekarang, sudah 8 malam. Alhamdulillah tidurnya selalu lelap sampai pagi. Tinggal sebelum tidur saja yang masih susah. Alasannya macam2, minta dibacakan buku terus, minta susu, minta minum, dll🙂 Tapi memang ya itu, mereka pada susah pergi tidur juga sebelumnya🙂

Semoga semakin lancar yaaa….

Author: aku, si ibu

Hanya aku... ya aku... siapa lagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s