Labor day 2012 Trip (1): Fairfield, IA

Labor day selalu jatuh pada hari senin pertama bulan September. Termasuk hari libur wajib karena hampir semua kantor baik negeri atau swasta dan sekolah harus libur. Bahkan, kegiatan bisnis seperti restauran dan toko banyak yang libur juga. Walhasil, suasana kota jadi sepi. Gak enak kalau pas bagian jalan2. Pernah kami alami pada tahun 2004. Kami berada di Denver saat labor day, semua sepi, mencari makan saja sulit.

Namun, libur hari senin menjadi penting karena berarti long wiken. Wikennya seolah bertambah sehari, menjadi 3 hari. Bisa kami manfaatkan untuk jalan-jalan agak jauh. Kami menyebutnya long trip atau road trip. Rencana pun di susun. K langsung mengatakan ingin pergi ke pantai. Hmmm, sulit juga mengingat kami berada di tengah2 daratan, sangat jauh ke laut. Namun pantai tidak selalu harus di laut, sungai atau danau pun selalu ada pantainya. Informasi dari teman kami di sini, Lake Michigan memiliki banyak pantai dekat kota Chicago, salah satunya bernama Glencoe Beach. Bagus juga, sekalian jalan-jalan ke Chicago, sekalian ke pantai.

Pagi ketika Badai Isaac lewat.
Pagi ketika Badai Isaac lewat.

Selain itu, pelan-pelan kami tetapkan tujuan pertama ke kota kecil di Iowa bernama Fairfield. Di sana kami memiliki teman berbangsa Nepal yang dulu pernah berkunjung ke St. Louis. Anggap saja ini kunjungan balasan. Mereka sangat gembira mendengar berita rencana kedatangan kami, termasuk putri mereka: Samu yang berumur 5 tahun.

Perjalanan kami mulai dini hari sabtu, selama 3.5 jam terus menerus menuju Fairfield. Hujan mengguyur lumayan deras. Prakiraan cuaca memang mengatakan Badai Isaac yang baru saja melanda New Orleans akan sampai di daerah kami pada hari-hari itu. Bahkan sejak hari jumat hujan turun tanpa henti. Kami hanya berdoa semoga saat kami tiba di tujuan, cuaca menjadi menyenangkan.

Waterwork Park, Fairfield, IA
Waterwork Park, Fairfield, IA

Tiba pagi hari di Fairfield, hujan memang masih turun rintik-rintik, suasana nampak basah dan mendung. Kalau warna, digambarkan dengan hitam-putih 🙂 Namun seperti doa kami: tetap menyenangkan. Mendatangi kota kecil yang terakhir kali aku kunjungi 4 tahun lalu. Ketika itu B masih berusia 6 bulan. Banyak yang sudah berubah. Toko tutup, pindah lokasi, lebih besar, pom bensin baru. Namun semuanya tidak banyak kelihatan bedanya karena tetap dibangun sesuai nafas kota: sederhana. Bahkan banyak bangunan yang beralih fungsi hanya mengganti papan nama saja, selebihnya tetap sama. Aku masih bisa mengenali toko buku ketika K berhenti di depannya untuk berfoto. Taman ketika sepatu bayi B terjatuh. Jalanan ketika seorang ibu tersenyum padaku sebelum mengayuh sepedanya. Atau suasana di antara gedung kampus, ketika aku berjalan keluar dari perpustakaan. Sayang, kali ini tidak sempat memasuki lebih jauh suasana kampus paling besar di kota itu. Selain waktu yang tidak memungkinkan, hujan, angin, dan anak2 yang tidak kompak moodnya juga menjadi pertimbangan.

Bersyukur kami masih bisa menyempatkan makan di kantin kampus, menikmati menu vegetarian-organic. Walaupun terus terang tidak bisa terlalu menikmati karena meladeni anak-anak terutama baby S, aku masih bisa merasakan lezatnya keju kedelai, dan burger yang dibuat dari kacang2an. Uhmmm… apa tidak sehat mereka yang memiliki kartu pass makan gratis di sini setiap hari?

Kami juga berkesempatan mengunjungi perkampungan ecovillage, perumahan yang 4 tahun lalu baru beberapa di bangun, dan kami sempat melihat2 ke dalam, mendengarkan penjelasan agent, dan mengetahui harganya, seperti open house. Saat ini sudah penuh terisi. Tanaman di pekarangan sudah tumbuh subur, mungkin karena musim panas juga, semuanya kelihatan sempurna. Aku membayangkan kedekatan perumahan ini terhadap bumi: memanfaatkan tenaga matahari, angin, dan menampung air hujan sebagai sumber air. Saat itu mereka bercanda: “Saat yang lucu ketika seluruh kota terganggu aliran listrik, kami tidak mengetahui sama sekali.”

dsc_0040

Pagi hari setelah bertemu keluarga nepal teman kami, kami mengunjungi farmer market di salah satu taman kota. Awalnya lucu juga, dasar kota kecil, atraksi yang ditawarkan adalah farmer market. Dan ketika kami lihat, hanya beberapa stand saja di satu ruas jalan. Pengunjungnya juga sepi. Aku pikir ini disebabkan hujan yang turun. setelah saya pikir lagi, kalaupun terlalu banyak, tentu barang yang dijual tidak akan sesedikit itu. Jauh sekali dengan farmer market di St Louis. Tunggu, ternyata memang layak dijadikan atraksi yang harus dikunjungi. Mereka menjual barang2 organic dan harganya jauuuuh lebih murah daripada supermarket. Timun, squash, zucchini, dan sebangsanya yang ukurannya jumbo, mereka jual $1 untuk 6 buah! Jika saja ada di st louis, tentu aku sudah borong banyak2. Saat itu, kami hanya beli sebagai penanda: 6 buah timun yang kami makan di kediaman teman nepal kami, 1 jar selai peach organic, 1 zucchini bread organic, dan 2 chocolate filled bread. Makanan terakhir sih kesukaan K dan B. Itu bagi kami sudah banyak, belanja dan makan hampir bukan tujuan kami berwisata 😉

img_4462

Keluarga nepal teman kami, menjamu dengan makanan khas mereka yang bagiku sama saja dengan makanan India. Salah satu menunya: kari rebung dan kentang! Sayang sekali aku tidak menyukai rebung dominan dalam sebuah masakan. Bersyukur aku penggemar kentang sehingga masih bisa merasakan rasa kari pada kentang dan kuahnya. Ayam gorengnya menyerupai ayam goreng yang biasa ditemukan di makanan rumahan di indonesia, bedanya, ini ayam organic yang dibeli di farmer market tadi 🙂 Satu lagi yang membuatku tersenyum, nasi biryani yang disajikan sangat sedikit dibandingkan lauk dan jumlah orang yang makan. Tentu saja aku membayangkan jika aku yang menyajikan makanan, tentu nasinya sudah sebakul, hheheh…. Ajaib, ternyata nasinya masih nyisa!

Mereka mengajak kami ke Burlington, kota lain sejauh 1 jam perjalanan ke arah timur. Agak besar daripada Fairfield. Di sana mereka mentraktir kami main di Fun City, bermain bowling untuk anak2, race car mainan, dan aneka game table lain yang cara bermainnya persis timezone di Indonesia. K dan B merasa luar biasa bisa memakai semua mainan dengan hanya tinggal menggesek kartu tanpa perlu minta pertimbangan ibunya 😛 Kecuali saat waktunya pulang, aku terpaksa mengatakan pada B bahwa uang di kartu tersebut hampir habis. Itulah satu-satunya jawaban yang membuatnya berhenti ngambek karena harus bersiap pulang.

Malamnya, setelah ngobrol sebentar, kami pergi tidur untuk melanjutkan perjalanan keesokan hari. Jam 4 pagi, itu yang kami katakan pada tuan rumah.

Author: aku, si ibu

Hanya aku... ya aku... siapa lagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s