Pengalaman melahirkan

Catatan:
Tidak ada proses melahirkan yang sama satu dengan yang lain. Saya suka buku What To Expect. Dia merangkum banyak yang dialami orang melahirkan, tapi intinya selalu dikatakan: pengalaman tiap orang berbeda, seperti bedanya sidik jari tiap orang.
Bagus sekali membaca buku dan membaca pengalaman orang karena bisa jadi ada kesamaan dengan kita, namun tidak akan sama persis. Apalagi di buku2, hanya mengambil kecenderungan atau pengalaman mayoritas. Jadi ambil baiknya dan tetap waspada.

Kehamilan Pertama: Pengalaman c-section
Kondisi kehamilan: sehat sampai usia 7 bulan. 7 bulan s/d melahirkan, kena sakit tulang belakang bagian bawah. tulang ekor tepatnya dan menyebar ke paha kiri. Kondisi bayi sehat.

Persiapan melahirkan: hampir tidak ada
– Minggu 40, induksi karena sudah fullterm, dokter mau ke luar kota, kondisi fisik ibu tidak sehat. Masuk RS langsung tiduran, infus, tidak boleh makan padat. Induksi tidak berhasil.
– Minggu 41, induksi ke-2. Masuk RS langsung tiduran, infus, tidak boleh makan padat. Induksi berhasil. Ketuban dipecahkan. Epidural. Ngepush selama 3 jam. Bayi tidak turun. C-section.
Setelah operasi:
– Tepat setelah melahirkan: kepala pusing, kleyengan, lemes. Mau makan menunggu passing gas. Kaki dikompres. Tidak bangun sampai 2 hari. Tidak menyusui langsung. Bekas jahitan perih. Terutama kalau mau berdiri dari tidur. Tubuh dalam kontrol obat pain killer. Sakit tulang belakang hilang *sepertinya. Di rumah sakit 4 hari.
– Post Partum: bekas jahitan perih sampai 6 bulan. Gatal2 mah tetep jalan sampai sekarang. Kalus tebal. Tidak boleh angkat berat2 termasuk bayi. Menggendong boleh, tidak mengangkat. Tidak boleh nyupir selama 2 minggu.

Tips untuk c-section:
C-section itu sama saja dengan major operasi lainnya, misalnya usus buntu. Bedanya, c-sec itu bukannya kehilangan anggota badan, malah mendapat hadiah luar biasa: bayi. Jadi, perlakuan terhadap pasien c-sec sama dengan pasien operasi lain.
Dukungan suami dibutuhkan lebih banyak ketika pasca operasi, kalo lagi operasi kadang suami gak boleh masuk kan. Kalo boleh masuk, sebaiknya suami memeluk istri kuat2, karena badan gemeteran, menggigil, kedinginan, pengaruh obat.
Tubuh tetap harus dipersiapkan selentur mungkin. Karena keluarnya bayi, plus menyusutnya perut dalam waktu singkat (drastis), memerlukan kelenturan otot dan tulang. Jadi, walopun mau c-sec tetep mesti banyak gerak, ga boleh tiduran ajah seperti sayah, heheh
Konsumsi vit-c yang banyak.
Luka jangan kena air, tapi harus sering terbuka agar cepet kering.
Banyak jalan tapi hati2.
Tunggu sampai usia anak 1 tahun untuk anak berikutnya.

Walaupun fisik merasa kuat, sebaiknya tetap istirahat sampai benar2 pulih. Ada bagusnya pepatah orang tua untuk tinggal selama 40 hari. Apalagi namanya operasi ya. Pergi2 boleh lah, tapi seperlunya. Sisanya, serahkan pada yang tidak melahirkan.

—————————

Kehamilan Kedua: pengalaman melahirkan natural/normal
Kondisi kehamilan: sehat, alhamdulillah. Mengurus toddler berusia 15 bulan yang energinya gak pernah habis.

Persiapan melahirkan (berdasarkan kehamilan pertama dan alasan lain):
– Tekad sekuat baja, pengen melahirkan natural, apalagi setelah kata dokter memungkinkan. Pertimbangannya: namanya natural pasti memberi efek lebih baik (catatan: kondisi memungkinkan).
Kakak disapih
– Ikut kelas yoga pada bulan ke-4, 1 jam 1 minggu 2 kali
– Sejak bulan ke-5, yoga dilanjutkan di rumah, (hampir) setiap hari, beli dvd khusus ibu hamil.
– Jalan keliling komplek atau treadmill, 30 menit, kecepatan 2mph. Yang ini kalo gak males.
– Baca2 buku tentang lamaze
– Membaca dan sharing tentang pengalaman melahirkan natural

Proses melahirkan:
– Tepat minggu 39, mulai jam 1 malam: mules2 selama 30-40 detik, interval 5 menit. Secara umum, interval kontraksi menjadi patokan. Misalnya 10-1-1. Setiap 10 menit, merasakan kontraksi sekali selama 1 menit. Ada juga dokter yang mematok: 7-1-1. Pada interval itu, ibu harus ke rumah sakit. Namun, kembali ke awal, tidak ada jaminan mutlak semua kasus sama, tetap waspada.
– Berdasarkan baca2 dan pengalaman orang, usahakan labor selama mungkin di rumah. Tidak ada labor yang cepat. Semua rata2 24 jam untuk hamil pertama dan 14 jam-8jam untuk kehamilan berikutnya, sejak dimulainya labor atau keluar tanda2 seperti spoting, flek, dll. Yang ada adalah kemampuan ibu mengatasi dan mengenali rasa sakit. Misalnya saya, seru2nya sih 2 jam, tapi labor ternyata sudah dimulai 12 jam sebelumya, cuman gak membebani saja. Insting perempuan yang akan mengetahui kapan sakit yang mendekat saat2 melahirkan. Jarak ke proses melahirkan rata2 sekitar 2 jam. Cukup waktu untuk menuju RS. Eh, cari tahu dulu lokasi RS ya, ato jangan2 rutenya suka macet, heheh… *yaa kalo sampe melahirkan di mobil, berkahnya seumur2 ada di mobil itu.
Oh, ya kecuali juga buat yang ketuban pecah duluan, harus segera ke RS, walopun sebetulnya, masih bisa bertahan 3 hari (resikonya besar).
– Datang di RS tepat 2 jam sebelum melahirkan. Ngepush selama 30 menit.

Tepat setelah melahirkan:
– kleyengan, kayaknya dari obat pain killer
– perih disekitar pelvic
– sakit bokong dan tulang belakang
– lemes dan lapar, langsung makan tapi
– badan sakit2, serasa remuk, kayaknya udah bajak sawah aja
– bintik2 darah di kulit
– gak merasakan pengen pipis
– hari ke-2 kaki mulai bengkak
– di RS 2 hari

Post partum (di rumah):
– kaki mulai bengkak kayak film flinstone, 2 minggu kemudian ngilang, direndem air garam dan diangkat
– perih kalo mau dan sesudah bab
– kadang2 migren, 2 kali deh kayaknya
– sakit tulang ekor dan bokong ngilang dalam 3 minggu
– perih di sekitar pelvic berkurang
– minggu ke-4 udah 95% pulih. tinggal perih kalo habis bab, kadang migren.

Selebihnya, sama dengan setelah c-sec. Walopun merasa kuat, sebaiknya tetap beristirahat. Hal2 yang bisa dilakukan oleh orang sekitar kita, biarkan mereka yang melakukan, mereka pasti senang kok. Manfaatkan waktu melahirkan untuk dekat dengan bayi dalam suasana yang tenang. Saat itu, bayi ada pada masa transisi terlepas secara drastis dari kenyamanan dalam kandungan ibunya.

Tips melahirkan natural/normal:
– Yoga hamil bagus deh kayaknya. Di dalamnya ada gerakan membuka pelvic. Tujuan yang sama dengan gerakan jalan dan ngepel lantai. Aku pake dvd Prenatal Yoga dari Shiva Rea.
– Kalau tidak yoga: jalan kaki setiap hari 30 menit, jangan cepet2, santai juga boleh. Sering ngepel atau melakukan posisi ngepel. Pokoknya tetap bergerak, tidak berlebihan, tidak kecapekan.
– Banyak tips untuk memicu labor, diantaranya: makanan (durian, kambing, dll), minuman (rumput fatima dll), gerakan (sex intercouse, memijat nipple, dll), dll, semuanya mengandung resiko. Labor yang terlalu kuat dan belum waktunya justru bisa berdampak negatif. Pertimbangkan baik2 dan jangan berlebihan.
– Dukungan suami sangat diperlukan ketika proses melahirkan, bagi para suami, keep trying untuk menenangkan, menghibur, dan memberi semangat istri, kalo dijudesin juga cuek aja, hihihi…

Natural/normal setelah c-sec?
W H Y … N O T ?
– Tanyakan ke dokter kenapa c-sec, apakah boleh selanjutnya natural/normal?
– Selalu cari 2nd, 3rd, 4th, dst dst dst opinion, baca buku dan buka internet, apalagi ketika dokter mengatakan tidak bisa natural.
– Siapkan fisik baik untuk melahirkan dengan operasi ataupun natural/normal.

Pada akhirnya, yang kita dapatkan adalah yang terbaik bagi kita. Melahirkan dengan operasi ataupun natural, yang penting adalah kesehatan ibu dan anak, kebahagiaan keluarga. Tidak selayaknya melebih2kan atau mengurangkan peran salah satunya.

Kenapa? karena berdasarkan pengalaman. Melahirkan ternyata ‘tidak ada apa2nya’ dibandingkan perjuangan panjang mendidik dan mengurus anak untuk menjadi hamba yang diridhoiNya. Aku baru merasakan, kenapa seorang ibu, tidak pernah mengungkit2 pengorbanannya melahirkan. Justru pihak lain yang menganjurkan kita menghormati ibu karena sudah mengandung dan melahirkan kita (Al Quran), dan itulah penghargaan bagi seorang ibu.

———-

Tambahan
Pengalaman teman yang harus c-sec karena bayi sungsang (kaki dulu), dokter memberi pilihan: mau anak yang sakit atau ibu yang sakit? Bisa diusahakan melahirkan normal/natural dengan kemungkinan tangan bayi patah dan harus dirawat begitu lahir (bisa sembuh sih), atau pilih c-sec agar bayi selamat namun ibu yang sakit (karena habis operasi).

Pengalaman sendiri: pada kelahiran anak ke-2, dokter mengatakan: bayi pada kelahiran normal/natural, lebih banyak mengandung resiko karena dia juga ikut ‘bekerja’ seperti ibunya. Lain dengan yang operasi, bayi santai2 saja, sedangkan resiko tinggi disebabkan akibat2 major operasi justru pada ibu.

Jadi, bisa disimpulkan, jika harus memilih, apa pilihannya, dan apa alasannya. Kalau saya pribadi, kembal ke tulisan saya di atas. Jika semuanya memungkinkan, kenapa tidak natural/normal? Sesuatu yang natural itu pasti jauuuuh lebih baik. Ternyata memang buat ibu pun lebih bagus melahirkan natural. Sementara untuk bayi, walopun dia ikut ‘bekerja’ dengan segala resiko, namun anggap saja itu pelajaran pertama seorang manusia untuk ‘berusaha’ meraih kehidupan😀
Dengan catatan tetap: jika semua memungkinkan. Jika ada kendala lain, bismillah saja, Insha Allah itu lah yang terbaik.

1 thought on “Pengalaman melahirkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s