What to eat

Apa yang harus dimakan? Teorinya, gradually, sejak lepas dari asi, anak belajar makan table food alias makanan apa yang ada di meja makan, apa yang juga dimakan orang tuanya. Gradual karena ga bisa teng-tong, tiba2 makan table food. Harus ada pengenalan texture, rasa, dan makanan yang kemungkinan bereaksi tidak baik. Makanya mulai dengan makanan cair, kental, bubur, lembek, dan seterusnya. Jenisnya pun dikenalkan satu persatu.
Pada masa belajar itu, anak sebagai sebuah jiwa yang terpisah akan menunjukkan penolakan, rasa suka/tidak suka, atau mood. Makanya, saya berpendapat anak wajib diperkenalkan makanan baru setiap 3-5 hari, ya itu agar banyak yang dia kenal, dan kita jadi tahu apa yang dia suka dan tidak. Kalo tidak suka, bisa lebih kreatif lagi memberikannya.

Karena targetnya adalah table food. Maka sasarannya pun harus mengarah kesana.
Bicara teksture, pasti sudah jelas deh ya. Anak 6 bulan, ga mungkin makan bubur, pastinya makan cair dulu. Lambat laun semakin mendekat ke table food, menu paling terkenal: nasi tim.

Jenis, macam, atau apa yang dimakan, menurut saya ini tak kalah penting. Selama belajar makan, apa yang mereka makan sama sekali bukan jenis table food. Semua sayuran asal masuk, tidak berasa, tidak berbumbu. Bagaimana mereka bisa belajar merasakan table food? bagaimana fisik mereka mengecap bumbu dan rasa table food?
Jangan2 anak nanti kaget, atau bahkan ogah terjun ke table food. Habis rasanya aneh sih, tidak sama dengan yang dipelajari.

Tetap perlu dicatat bumbu yang membahayakan pencernaan anak yang masih belum sempurna, misalnya: pedas.

Tetap diperhatikan juga jumlah dan jenis yang diberikan. Misalnya pada awal2, perkenalkan sedikit saja bawang putih yang dihaluskan, atau cinamon halus, atau bawang merah halus, gitu deh seterusnya.
Lama2, kalo udah mahir, baru belajar rasa table food.
Jika di meja terhidang soto, biarkan anak belajar makan rasa soto. Caranya: gunakan kuah soto untuk membuat bubur.
Jika di meja terhidang pepes tempe dan tahu, kasih pula anak pepes tempe dan tahu. Caranya: sisihkan bahan pepes sebelum dikasih pedas.
Jika orang tua makan perkedel, buat juga perkedel untuk anak. Caranya sisihkan adonan sebelum diberi merica. Biarkan daging tetap besar2. Agar anak belajar mengunyah juga. Kalo dia ga suka mah pasti dikeluarkan.
Gitu deh dan seterusnya.

BIG RULE: makanan sehat.

1. Cheating is Okay dalam memberi makan anak. Jika anak mulai menunjukkan suka/tidak suka pada jenis makanan tertentu, kebanyakan sayuran. Kita bisa ‘licik’ dikit. Misalnya, masukkan rajang sayuran pada perkedel dan pepes tahu/tempe. Masukkan bayam pada brownies anda. Jangan sampai anak dilarang makan brownies hanya karena kemanisan, sementara kita cacamuilan makan sendirian.

2. Makan sehat untuk semua.
Ada pantangan table food untuk anak karena tidak sehat? Bukan anak yang harus berubah. Tapi table food yang harus berubah menjadi sehat. Misalnya kita beralasan: sotonya jangan buat anak deh, kan ga sehat, ada mecinnya. Ya stop penggunaan mecin. Atau anak ga dikasih table food karena kebanyakan santan. Ya stop makanan bersantan. Minimal, kurangi jumlahnya, kurangi frekuensinya, lakukan diversifikasi, ganti susu atau yoghurt misalnya. Kalo dikit2 dan sekali2 mah ga apa2 menurut saya sih.
Makanannya pedas semua? Kebanyakan garam bagi ukuran anak? Kurangi, atau stop. Gantinya, sediakan sambal dan garam di meja. Kalo merasa kurang pedas atau kurang garam, silakan ambil bagi yang memerlukan.
Kita sebetulnya tahu kan, yang sehat yang gimana😉

Sekali lagi, tujuan anak belajar makan adalah agar bisa makan table food, duduk bersama, menyantap makanan sama dengan orang tua.

Jika kita bisa, maka ini yang dinamakan ‘belajar dari anak’. Karena kehadiran anak, kita jadi ikut sehat. Ibarat mereka yang merokok, karena punya anak, merokoknya pindah ke luar. Karena males bolak-balik ke luar, frekuensinya berkurang, lama2, lupa deh

3. Makan sehat, olahraga, dan istirahat
Rule for all sebetulnya ya.
Tetap harus dipenuhi. Anak suka makan, jadikan juga dia suka bergerak agar kalori terbakar. Jangan lupa beristirahat untuk perkembangan otak dan ketenangan jiwa, cieee….

DIFFERENT STORY buat anak yang tinggal di LN dengan table food makanan indonseia. Ini sih berkah bagi ibunya untuk memasak double. Kita sebagai ibu bisa terus mengenalkan makanan Indonesia agar anak tetap bisa makan table food yang sama ketika makan bersama. Atau ketika acara keluarga besar. Agar juga ibu ga repot selaaaaaluuu memasak berbeda.
Di luar itu, harus juga dikenalkan makanan yang kelak mereka akan makan bersama teman2. Misalnya sandwich, mac n cheese. Kalo bapaknya ga mau, anaknya harus belajar makan tuh. Tujuannya bukan karena kasihan ntar dia beda sendiri dari teman2nya, tapi agar mereka berbaur.
Bayangkan kalau kita pilih salah satu, anak kita tidak bisa makan table food orang tuanya. Suatu saat ada acara keluarga, dia ga bisa berbaur juga.

Big work. Yes. Tapi menurutku, makanan adalah budaya, kebiasaan, so jika dibiasakan sih Insha Allah bisa ya….

Aih aiiih…. bisa ga aku seperti yang aku tuliskan ini? Hmmm… kakak saja masih pilih2 makanan, aku saja masih males2 memperkenalkan makanan baru padanya, heheh

So, ini sekedar catatan motivator gitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s